Kamis, 06 Agustus 2009
Key Of Life
Kunci Sukses Hidup Bergantung pada Pandangan Hidup !
Hidup adalah Ujian
Kunci sukses-tidaknya hidup sangat ditentukan dengan pandangan hidup yang bersangkutan. Pandangan hidup adalah bentuk dari bagaimana sesorang akan berprilaku dan bersikap. Jadi prilaku seseorang tak lebih dan tak kurang adalah wujud dari pandangan hidupnya itu sendiri. Pandangan hidup yang merupakan pola pikir yang ada pada jiwa seseorang tersebut. Oleh karena itu, dapat dipastikan kesuksesan hidup, apapun juga : karier, jodoh, materi, kebahagian, keluarga, dan bermasyarakat, sangat berhubungan dengan pandangan hidupnya untuk meraih semuanya itu.
Tidaklah mungkin orang yang pandangan hidupnya selalu dibayangi dengan kepesimisan dan ketidaktahuan tentang strategi hidup, akan mendapati banyak keberhasilan dalam hidupnya. Inilah yang banyak tidak diketahui sebagian besar orang, yang sebenarnya menginginkan mendapat banyak keberhasilan dalam hidupnya.
Inilah juga, yang sebenarnya menjadi kunci sukses hidup, yang tak lain dan tak bukan adalah keoptimisan hidup itu sendiri. Keoptimisan hidup yang harus dibarengi dengan pola pikir, pandangan, strategi, dan prilaku yang selalu optimis menghadapi hidup. Tanpa syarat itu semua, tidaklah mungkin orang bisa mendapatkan banyak kehidupan dalam hidupnya.
Akan tetapi untuk menuju suatu proses menjadikan hidup yang selalu optimis ini, tidaklah nudah dan gampang. Banyak ujian dan kendala untuk menuju ke sana. Namun sayang, banyak yang telah mencobanya dan menyerah di tengah jalan, akibat dari ketidakbisaan menikmati ujian dan kendala yang sedang diterimanya. Mereka umumnya, sudah dapat menerima keadaan yang dianggapnya sudah cukup mengenakan dan menyenangkan. Sikap menyerah akibat ketidaksiapan diri dan ketidaktahuan diri dari sebuah makna yang ada di balik ujian dan kendala itu.
Mereka kebanyakkan tidak tahu, bahwa ujian dan kendala hidup itulah yang menjadi jalan menuju perbaikan dan kesuksesan hidup itu. Mereka tidak sadar atau mungkin tidak tahu tentang itu, sehingga mereka cenderung menghindar dan mundur, dari pada menghadapi ujian dan kendala hidup itu. Walau mungkin suatu ketika, mereka dihadapkan pada ujian dan kendala yang ringan-ringan, dan merekapum tidak menyadarinya telah melaluinya. Melaluinya dengan keadaan terpaksa dan memaksa untuk dilaluinya. Akan tetapi sayang mereka tidak menyadari itu semua, sehingga mereka seakan tidak mendapatkan apa-apa dari itu semua.
Ada juga sebagian yang lain menyikapi hidup ini dengan sikap yang cenderung berusaha cari mudahnya, cari enaknya, dan tidak mau mendapatkan dengan susah-susah. Sikap dan pandangan seperti ini, tidak disadarinya, telah membawa dirinya selalu melihat dengan pesimisme semua jalan hidup. Bagaimana tidak, jika mereka kemudian dihadapkan dengan banyaknya kesulitan yang akan dihadapinya. Bagaimana tidak, jika mereka kemudian harus dihadapkan dengan ketatnya persaingan hidup ini. Bagaimana tidak, jika mereka akan menemui banyak kendala dan masalah yang harus dilaluinya, jika harus meneruskannya.
Padahal mereka tidak sadar bahwa hidup ini adalah belajar. Belajar untuk selalu belajar memahami dan mengetahui masalah yang selalu akan dihadapinya itu. Bagaimana kita akan banyak belajar hidup kalau kita tidak mau menghadapi segala masalah hidup ini. Bagaimana kita akan belajar banyak masalah hidup, jika kita selalu melihat masalah dengan penuh kepesimisan diri. Bagaimana kita mau berkembang dan tumbuh, jika kita takut dengan masalah dan bayangan yang telah kita buat sendiri ini. Bagaimana kita mau berkembang dan tumbuh, kalau kita sudah takut sebelum menghadapi.
Persoalan yang sering terjadi pada kebanyakan mereka adalah menganggap terlalu berat ujian yang harus diterimanya, jika mereka menghadapi ujian dan kendala. Sikap dan pandangan inilah yang kemudian menjadi terbiasakan. Lalu karena sudah menjadi kebiasaan, maka mereka sering mudah terjebak dengan sikap yang mau enaknya sendiri, mau mudahnya sendiri, menjadi seorang pengecut dalam hidup, mau yang gampang-gampang saja, dan sebagainya, dan sebagainya. Kemudian jika sudah mampunyai sikap dan pandangan seperti ini, maka yang akan terjadi tak lain dan tak bukan adalah kemandekan hidup itu sendiri. Suatu kemandekan hidup yang sangat sulit sekali berkembang. Suatu kemandekan yang menjadikan mereka mudah tersingkir sebelum memasuki persaingan hidup yang semakin ketat ini. Suatu kemandekan yang mengakibatkan mereka menyerah atau bahkan mundur karena keadaan yang menyulitkan dirinya sendiri itu.
Sikap-sikap hidup yang mandek yang mudah menyerah kepada kekuatan sistem yang menekannya. Mudah menyerah atau bahkan mundur akibat sistem ( baca : lingkungan ) yang kurang kondusif terhadap dirinya. Kurang mampu melakukan efaluasi dan koreksi diri terhadap sistem yang menolaknya. Kurang mampu beradaptasi atau menyesuaikan dengan lingkungannya. Kurang mampu berinisiatif dan kreatif menyikapi hidup yang terus berkembang ini. Terus dan terus mudah tersingkirkan, terpingirkan, mudah kalah sebelum bertanding, dan selalu mendapatkan kesulitan demi kesulitan akan masalah hidup yang terus dihadapinya ini. Inilah sebuah kehidupan yang nyata-nyata menjadi mandek dan berhenti tak bergerak sama sekali.
Kategori Pribadi Berdasarkan Inisiatifnya
4 Kategori Pribadi Berdasarkan Inisiatifnya.
Sering kali kita mendengar kata inisiatif. Bahkan mungkin saja setiap dari kita sudah sering mendengarnya saat kita masih kecil atau saat kita mulai bersekolah. Bahkan, ketika kita kuliah ataupun saat mengikuti kegiatan organisasi pun, hingga saat sekarang ini, dimana kita bekerja atau melakukan bisnis, kata ini kerapkali terdengar.
Orang – orang di sekitar kita pun sering mengatakan, “Kalau mau sukses dan berhasil, intinya mesti dimulai dari insisiatif!”. Bahkan seorang motivator kelas dunia seperti Anthony Robbins pun mengatakan bahwa kesuksesan itu datangnya dari inisiatif.
Saya pun teringat dengan sebuah cerita yang pernah diceritakan oleh teman saya. Alkisah ada seseorang yang bekerja kepada seorang bangsawan di Eropa. Suatu ketika, istri bangsawan itu memanggil seorang pekerjanya untuk diajak berbicara. “Andrew, berapa lama Anda sudah tinggal dan bekerja bersama kami?”, tanya istri bangsawan itu. “Kira – kira sekitar dua puluh lima tahun, Nyonya” jawab Andrew. “Oiya, saya ingat kalau engkau dipekerjakan untuk memelihara satu-satunya kuda perang waktu itu.”, kata sang Nyonya. “Benar sekali, Nyonya,” jawab Andrew. “Andrew, kuda itu sudah mati sepuluh tahun yang lalu”, ujar sang Nyonya kepada Andrew. “Benar sekali, Nyonya.” Jawab Andrew. “Jadi, apakah yang harus saya lakukan sekarang?”, lanjutnya.
Hey! Jangan – jangan kita sama seperti Andrew. Banyak orang tidak memiliki inisiatif dan menunggu selama bertahun-tahun agar orang lain memberitahukan kepadanya apa yang seharusnya dia lakukan. Sehingga segala kesuksesan, keberhasilan, prestasi serta pencapaian – pencapaian yang harusnya telah kita raih tidaklah kita dapatkan dikarenakan kurangnya inisiatif dari kita.
4 Kategori Pribadi Berdasarkan Inisiatifnya
Secara pribadi, saya ingin membagi 4 kategori orang berdasarkan tingkatan inisiatifnya. Keempat kategori itu adalah :
1. Orang tipe pertama, orang-orang yang tidak pernah melakukan hal yang benar, tidak peduli apapun yang dikatakan kepadanya.
Orang yang termasuk dalam kategori pertama ini sering kali menjadi sumber masalah baik di dalam pekerjaan maupun dalam hubungan interaksinya. Selain cuek, yang memperparah mereka adalah meskipun sudah diberitahukan hal yang benar, mereka tidak dapat mengerjakan sesuatunya dengan benar. Namun, ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi. Bahkan, kita tidak perlu ‘menyepak’ orang‐orang ini dari organisasi kita. Saya pun teringat pepatah dari novelis, Robert A. Heinlein yang pernah mengatakan, “A society that gets rid of all its troublemakers goes downhill.” Ya, organisasi yang mengeluarkan para troublemakernya, malahan akan terpuruk. Saat ini, di tempat dimana kita menjadi sang pemimpin, mungkin saja ada orang – orang yang masuk dalam kategori ini. Langkah terbaik yang
harus kita lakukan bukanlah secara langsung dengan menghindari orang tersebut tetapi mulailah dengan mengajak orang tersebut dalam proses coaching atau counseling. Mungkin saja ada pengalaman – pengalaman masa lalu yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu. Ketika bisa diperbaiki, orang ini bisa jadi justru menjadi aset yang berharga.
2. Orang tipe kedua, orang-orang yang melakukan hal benar setelah diberitahukan lebih dari satu kali.
Dibandingkan dengan tipe pertama, maka orang yang masuk dalam kategori ini tentunya lebih baik. Jika dalam tim terdapat orang seperti ini, hal yang perlu dilakukan adalah sedikit bersabar. Mungkin juga sebagai pemimpin, kita tidak memberikan arahan yang cukup jelas. Janganlah langsung menyalahkan mereka.
3. Orang tipe ketiga, orang-orang yang melakukan hal yang benar saat diberitahukan sekali.
Rata – rata sebagian besar orang – orang di dalam tim biasanya masuk dalam kategori ini. Orang dalam kategori ini merupakan kelompok terbesar, sehingga kelompok ini dapat disebut sebagai kelompok standard (rata – rata). Jika saat ini Anda mau menjadi orang luar biasa, maka perlu bergerak dari kelompok ini menjadi pribadi yang masuk ke orang dalam kategori keempat.
4. Orang tipe keempat, orang-orang yang melakukan hal benar tanpa harus diberitahukan.
Inilah yang dikategorikan sebagai orang yang memiliki inisiatif. Untuk belajar tentang inisiatif, saya jadi teringat pada masa kecil saya dimana saya suka sekali mengamati kegiatan yang dilakukan oleh semut. Semut - semut, meskipun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya, mereka mengumpulkan makanan pada waktu musim panas. Setiap kali ada kesempatan, mereka selalu mengumpulkan makanan dan selalu bekerja sama dalam mengumpulkannya. Semuanya tampak terjadi, tanpa ada yang mengkomando. Nah, jika semut saja bisa, harusnya setiap kita pun mampu melakukannya.
Jadi, kita bisa simpulkan bahwa salah satu rahasia besar untuk menjadi seorang pribadi yang sukses dan berhasil, adalah kemauan untuk mengambil berbagai inisiatif. Untuk itu, janganlah memiliki sikap hanya menunggu bola datang menghampiri, tapi yang harus dilakukan adalah menjemput bola kemudian cetaklah gol dalam kehidupan. Ini khususnya berlaku dalam bidang-bidang sales atau pun bisnis kepada customer.
Namun, dalam banyak pembicaraan, saya sering menemukan sekali orang yang hanya terus menunggu datangnya kesempatan. Mereka terus berharap akan adanya peluang yang datang menghampiri hidup mereka. Tentunya sampai beberapa tahun pun mereka akan tetap didapati sebagai orang yang dalam posisi yang sama. Alih – alih menunggu datangnya kesempatan dan peluang dalam hidup kita, lebih baik kita mempersiapkan hidup kita saat ini dengan terus mengasah skill dan kemampuan, membangun networking, dll. Pastikan pada saatnya kesempatan itu datang, Anda sudah siap! Saya pun jadi teringat oleh sebuah pepatah yang pernah disampaikan oleh sahabat saya, “Janganlah berdoa supaya kesempatan datang, tetapi berdoalah supaya Anda siap saat kesempatan datang!”
Mungkin Anda pernah mengalami saat‐saat dimana kesempatan datang , tetapi Anda justru belum siap. Betapa sayangnya! Maka, mulai saat ini mari berjanjilah untuk menjadi pribadi yang berinisiatif serta mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga saat peluang ada di depan mata, Anda dapat meraihnya sehingga mampu mengenggam sukses dan keberhasilan Anda!
3 Pelajaran Inspiratif dari Tiger Wood
Tiger Woods, miliki fokus dan komitmen untuk meraih hal – hal yang diinginkan dalam hidup ini. Ingatlah,
keinginan Anda yang begitu kuat bahkan bisa memindahkan gunung kesulitan Anda, seti nggi apapun.
I Will Do It With All My Heart
Keti ka Tiger Woods melakukan sesuatu, ia melakukannya dengan totalitas dan komitmen. Melakukan
segala sesuatu dengan sungguh – sungguh dan ti dak pernah setengah-setengah, itulah kunci kemenangan
Tiger Woods. Baginya, bahkan hanya dalam berlati h di lapangan saja, semuanya diperlakukan seperti
pertandingan sungguhan. Tiger Woods melakukan semuanya dengan keinginan bukan menjadi baik
(good), bukan juga menjadi lebih baik (bett er), tetapi dengan keinginannya menjadi yang terbaik (best).
Tidaklah mengherankan jika diusianya yang ke 24, di tahun 2000 Tiger Woods sudah berhasil dapat menjadi
juara dunia hampir semua kejuaraan golf bergengsi di dunia: US Open, US Amateur, Briti sh Open
serta Briti sh Amateur. Kehidupan Tiger Woods memberikan pelajaran penti ng kepada kita yakni jika kita
mau meraih kesuksesan dan keberhasilan yang luar biasa, lakukanlah segala sesuatu dengan kerja keras,
fokus, penuh dedikasi dan lakukan semuanya itu dengan hati . Inilah sebenarnya pelajaran yang diperoleh
Tiger dari ayahnya, yang sekaligus menjadi pelati hnya. Untuk melati h Tiger Woods bermain dengan
sepenuh hati , ayahnya seringkali membunyikan koin-koin dan berusaha mengacaukan konsentrasinya.
Tetapi, lati han seperti inilah yang membuatnya semakin mantap. Bahkan, pernah sekali keti ka ia
memukul bola dan pada saat itu, ada suara walkie talkie yang mengganggu. Namun, Tiger Woods mengatakan
dirinya ti dak mendengarkan suara apapun karena pelajaran hidupnya membuatnya betulbetul
menaruh sepenuh hati pada bola yang akan dipukulnya. Dengan mantap, Tiger Woods mengajarjkan
bahwa kita berpelaung besar meraih hal – hal yang kita inginkan jika ada totalitas penuh disana.
Demikianlah, mari belajar dari 3 pelajaran inspirati f Tiger Woods ini: smile at obstacles, my will moves mountains
serta I will do it with all my heart – untuk menjadikan tahun 2009 ini menjadi tahun yang spektakuler,
dimana Anda semua akan mencapai hal – hal yang Anda impikan dan meraih kesuksesan serta keberhasilan
yang luar biasa! Sukses serta antusiasme yang luar biasa akan selalu menyertai Anda di tahun 2009 ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar